Di era digital, kita melihat bentuk baru "pendidikan bank": Micro-learning yang dangkal, kursus kilat yang hanya menjejali tips tanpa fondasi kritis, bahkan algoritma media sosial yang membatasi wawasan. Ironisnya, teknologi yang seharusnya membebaskan justru bisa menjadi alat penindasan baru jika tidak disikapi secara kritis.
Paulo Freire, seorang pendidik asal Brasil, menulis magnum opusnya, Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas), di tengah pergolakan kemiskinan dan buta huruf di Amerika Latin pada tahun 1960-an. Meskipun ditulis setengah abad lalu, kritiknya terhadap sistem pendidikan tradisional terasa semakin relevan hari ini, bahkan di ruang kelas modern kita.
Atau, jika Anda masih menjadi murid, jangan takut bertanya "Mengapa?" lebih dari tiga kali.
Berikut adalah draft panjang untuk sebuah blog post tentang karya Paulo Freire.
