“Bagus, aku juga penasaran. Ayo, makan bareng.” Kami melangkah keluar gedung, menembus lalu lintas kota yang riuh. Di dalam taksi, Mashiro menyalakan musik jazz lembut, menambah suasana yang santai. Selama perjalanan, percakapan kami mengalir lancar: tentang pekerjaan, hobi, bahkan rahasia kecil yang hanya dibagikan antara dua orang yang merasa nyaman satu sama lain.
Aku mengangguk, mengatur perasaan gugup yang berdenyut di perut. “Iya, Mami. Ada tempat sushi yang baru buka di Jalan Kemang. Aku belum sempat coba.” “Bagus, aku juga penasaran
Dia mengangguk, kemudian mencondongkan kepalanya ke arahku, bibirnya mendekat. “Rudi, apakah kamu siap menerima rasa baru ini? Bukan sekadar rasa makanan, tapi rasa yang mengalir dalam setiap detak jantungmu.” Ada tempat sushi yang baru buka di Jalan Kemang
Aku menatapnya, hati berdegup kencang. “Aku… kadang merasa terjebak antara pekerjaan dan… perasaan yang tidak jelas.” Bukan sekadar rasa makanan